Segelas Kopi dan Sebuah Kebohongan Kolektif
Ilustrasi gelas kopi berwarna hijau. Foto: Iuliia Pilipeichenko/Shutterstock Mal ramai dan kafe penuh bukan tanda ekonomi baik-baik saja. Bisa jadi itu tanda sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan. Seorang perempuan muda berdiri di antrean kedai kopi. Sudah dua puluh menit. Ia tahu harga segelas cold brew itu setara dengan tiga kali ongkos ojek pulang-pergi. Ia juga tahu bahwa bulan ini gajinya belum naik, sementara harga beras dan telur sudah naik duluan. Tapi ia tetap berdiri di sana dan itu bukan karena ia bodoh, atau boros, atau tidak tahu diri. Itu karena ia lelah. Dan segelas kopi adalah satu-satunya kemewahan yang masih terasa dalam jangkauan. Di sinilah titik masuk yang sering terlewat dari perdebatan soal lipstick effect yang belakangan ramai diperbincangkan. Media ramai membahas fenomenanya: mal penuh, kafe ramai, antrean mengular, sambil bertanya-tanya apakah ini bukti bahwa ekonomi Indonesia "baik-baik saja." Tapi pertanyaan yang lebih penting bukan soal apakah m...