Story WhatsApp Seorang Kakak
"Lebih baik tidak muncul di permukaan media sosial atau aktif di media sosial?" Itulah pertanyaan yang sering muncul di benak saya. Cukup lama membayang-bayangi setiap langkah saya.
Tidak sedikit mentor yang sering saya tanyakan. Soal pertanyaan yang muncul dalam benak itu. Selama masa-masa itu, saya kadang aktif di media sosial hingga seperti spam, kadang saya sama sekali tak update di media sosial.
Baru-baru ini seorang kakak kandung mengunggah sebuah story WhatsApp. Story ini setidaknya membuat mata hati saya terbuka. Berikut cuplikan story-nya.
Tidak tau yang menulisnya siapa. Namun, tulisan singkat dan padat itu tersampaikan maknanya. Setidaknya membuat saya (saat ini) yakin untuk memilih "tidak muncul di permukaan" media sosial. Kendati demikian, saya akan terus berkarya melalui beragam media.
Menurut saya, persoalan seperti ini adalah sebuah pilihan hidup. Tidak bisa disalahkan ketika seseorang memilih pada salah satu. Boleh jadi ia senang ketika mengunggah hari-harinya dan melalui postingannya itu ia bisa membagikan kebaikan dan manfaat bagi orang lain.
Sekali lagi, hidup itu adalah pilihan. Kita harus yakin pada pilihan itu. Yakinnya bisa jadi membuat kita bahagia dalam pilihan tersebut.
Semoga bermanfaat.
Bogor, 28 Februari 2021
MHT
Comments
Post a Comment