EIGER Paparkan Agenda 2026: Program Lingkungan hingga Kompetisi Panjat Tebing

Konferensi Pers Peluncuran Calendar of Events EIGER 2026 di Mbloc Space, Jakarta Selatan, Kamis (12/3). Foto: Nauval Pratama/kumparan
Konferensi Pers Peluncuran Calendar of Events EIGER 2026 di Mbloc Space, Jakarta Selatan, Kamis (12/3). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Perusahaan perlengkapan kegiatan luar ruang, Eiger, memaparkan sejumlah agenda dan program yang akan dijalankan sepanjang 2026 dalam konferensi pers bersama media di Mbloc Space, Jakarta Selatan, Kamis (12/3).

Dalam acara tersebut, Eiger menyoroti berbagai inisiatif yang mencakup pendidikan, pelestarian lingkungan, kegiatan komunitas, hingga kompetisi olahraga panjat tebing berskala internasional.

Brand Communications and Partnership Eiger, Zakiy Zulkarnaen, mengatakan perusahaan ingin memperluas cerita dan dampak dari berbagai kegiatan yang selama ini dilakukan Eiger melalui kolaborasi dengan media.

“Harapannya dari pertemuan ini kita bisa share apa saja yang Eiger rencanakan di 2026. Jadi angle-angle apa, cerita program-program apa yang kira-kira relevan dengan teman-teman media,” ujar Zaki dalam konferensi pers peluncuran Calendar of Events EIGER 2026, Kamis (12/3).

Dalam kesempatan tersebut, Eiger juga memutar film pendek berjudul Tebing, Tuhan, dan Aku yang menceritakan sejarah awal berdirinya brand tersebut.

Film itu mengangkat kisah ekspedisi pendaki Indonesia ke Gunung Eiger di Swiss pada 1985 dan 1986 yang kemudian menjadi inspirasi lahirnya brand Eiger.

Konferensi Pers Peluncuran Calendar of Events EIGER 2026 di Mbloc Space, Jakarta Selatan, Kamis (12/3). Foto: Nauval Pratama/kumparan
Konferensi Pers Peluncuran Calendar of Events EIGER 2026 di Mbloc Space, Jakarta Selatan, Kamis (12/3). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Menurut Zakiy, semangat mountaineering atau kegiatan pendakian gunung masih menjadi identitas utama Eiger hingga saat ini.

“Eiger itu brand gunung. Mountaineering selalu jadi semangatnya Eiger. Itu identitas yang akan selalu dijaga,” katanya.

Selain produk pendakian, Eiger saat ini juga mengembangkan berbagai sub-kategori produk lain untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Total terdapat 7 kategori produk, di antaranya Eiger Junior, Eiger Riding, Eiger 1989 untuk produk lifestyle, Eiger Women, Eiger Tactical, serta lini terbaru Eiger Active yang fokus pada produk olahraga dan kebugaran.

Eiger juga terus memperluas jaringan ritelnya yang kini telah mencapai ratusan toko di berbagai daerah di Indonesia.

Dalam membangun ekosistem komunitas, Eiger menggandeng sejumlah atlet, figur publik, serta komunitas pengguna produk Eiger yang dikenal sebagai Eigerian.

Beberapa atlet yang didukung antara lain pendaki gunung Ian, Dimitri, Khansa, hingga atlet panjat tebing muda Cikal yang berusia 14 tahun.

“Di Eiger kami menyebutnya Eiger Family. Kami ingin merangkul lebih banyak atlet, komunitas, dan figur yang punya semangat petualangan,” kata Zakiy.

4 Program Utama EIGER 2026

Konferensi Pers Peluncuran Calendar of Events EIGER 2026 di Mbloc Space, Jakarta Selatan, Kamis (12/3). Foto: Nauval Pratama/kumparan
Konferensi Pers Peluncuran Calendar of Events EIGER 2026 di Mbloc Space, Jakarta Selatan, Kamis (12/3). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Dalam konferensi pers tersebut, Eiger juga menyoroti empat program utama yang akan menjadi fokus perusahaan pada 2026.

Program pertama adalah Dropbox Donasi Pendidikan, yakni pengumpulan bantuan alat tulis melalui titik-titik donasi di sejumlah toko Eiger.

Bantuan tersebut akan disalurkan ke sekolah-sekolah di sekitar wilayah toko melalui jaringan komunitas lokal.

Program ini terinspirasi dari kunjungan tim Eiger ke Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, yang memperlihatkan berbagai tantangan pendidikan di daerah terpencil.

“Kita menemukan banyak cerita tentang pendidikan di pulau terluar. Dari situ kita berpikir apa yang bisa kita lakukan secara sederhana tapi bisa dilakukan secara luas,” ujar Zakiy.

Program kedua adalah Benih untuk Pulih, sebuah inisiatif pemulihan ekosistem hutan di Sumatera yang dilakukan bersama National Geographic Indonesia.

Program ini akan diawali dengan ekspedisi pemetaan kawasan hulu yang mengalami kerusakan akibat deforestasi dan bencana alam.

Perwakilan National Geographic Indonesia, Didi, menjelaskan ekspedisi tersebut akan fokus pada wilayah hulu ekosistem penting di Sumatera seperti kawasan Leuser, Batanghari, dan Batang Toru.

“Kita ingin mempelajari kembali ekosistemnya, sejarahnya, dan bagaimana kawasan itu bisa pulih. Mungkin tidak bisa kembali seperti semula, tapi setidaknya mendekati kondisi yang dibutuhkan oleh ekosistemnya,” ujarnya.

Selain pemetaan, program ini juga akan mencakup kegiatan penanaman pohon serta edukasi masyarakat mengenai pentingnya pemulihan kawasan hutan.

Kompetisi Panjat Terbing Internasional

Program ketiga yang disiapkan Eiger adalah Eiger Independence Sport Climbing Competition (ESCC) yang akan digelar pada Agustus 2026. Kompetisi ini merupakan salah satu ajang panjat tebing yang telah diselenggarakan sejak 2002.

Kompetisi tahun ini akan menghadirkan sejumlah kategori, termasuk kategori baru Speed Rookie yang diperuntukkan bagi peserta pemula yang ingin mencoba kompetisi panjat tebing.

Selain itu, Eiger juga berencana menggandeng komunitas panjat tebing internasional untuk menggelar kompetisi pendahuluan di beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Filipina. Pemenang dari kompetisi tersebut akan berkesempatan mengikuti ESCC di Indonesia.

Woman Adventure Camp

Program keempat adalah Woman Adventure Camp (WAC) yang akan digelar pada April 2026 bertepatan dengan peringatan Hari Kartini.

Program ini ditujukan bagi perempuan yang ingin belajar kegiatan alam terbuka sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap isu lingkungan.

Zakiy mengatakan kegiatan ini juga menyoroti fenomena eco-anxiety atau kecemasan terhadap kondisi lingkungan yang banyak dialami generasi muda.

“Banyak anak muda sekarang cemas terhadap lingkungan, tapi tidak punya akses terhadap solusi nyata. Lewat program ini kita ingin memberi pengalaman langsung dan edukasi,” kata dia.

Woman Adventure Camp akan digelar selama tiga hari dua malam di Gunung Papandayan, Jawa Barat.

Kegiatan tersebut mencakup pelatihan dasar pendakian, pengelolaan sampah, hingga sesi diskusi bersama sejumlah mentor.

“Kegiatan ini memang dibuat beginner friendly. Jadi yang belum pernah naik gunung pun tetap bisa ikut,” ujar Zakiy.

Melalui berbagai program tersebut, Eiger berharap dapat memperluas dampak kegiatan outdoor tidak hanya sebagai aktivitas rekreasi, tetapi juga sebagai sarana edukasi lingkungan dan pemberdayaan komunitas.

“Di Eiger banyak petualang hebat, tapi sering lupa menceritakan kegiatannya. Karena itu kami ingin bekerja sama dengan media agar cerita-cerita ini bisa sampai ke lebih banyak orang,” kata Zakiy.

Comments

Popular posts from this blog

5 Berita Populer: Aisyah Aqilah Rindu Jeff Smith, Mertua Mona Ratuliu Meninggal

Buah yang Bagus untuk MPASI Bayi 6 Bulan

Penjelasan Tanah 10 Ru Berapa Meter Persegi