Anggota DPR asal NTB Minta Kemenhub Evaluasi Insiden KMP Putri Yasmin Terbakar

Anggota DPR dari Daerah Pemilihan (Dapil) Nusa Tenggara Barat (NTB) II, Lalu Hadrian Irfani, meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan evaluasi total terhadap keselamatan kapal penyeberangan. Hal ini menyusul terbakarnya KMP Putri Yasmin di perairan Selat Lombok, Kabupaten Lombok Barat, NTB.
Lalu menilai evaluasi menyeluruh diperlukan karena insiden kapal terbakar kembali terjadi dalam waktu berdekatan.
“Ya, sebagai warga Nusa Tenggara Barat yang memang masyarakatnya kemarin ikut menjadi korban, tentu kami meminta kepada Kementerian Perhubungan untuk melakukan evaluasi total, karena ini kejadian yang kedua di bulan ini. Kemarin terjadi di sebelah utara perairan Madura, sekarang di Selat Lombok. Nah, walaupun korbannya cuma satu yang meninggal tetapi lagi-lagi jangan melihat angkanya,” ujar Lalu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (13/8).
Menurut Lalu, evaluasi tidak boleh hanya berfokus pada jumlah korban. Dia menekankan pentingnya memastikan seluruh aspek keselamatan kapal sebelum kapal berlayar.
“Perbaikan total harus dilakukan. Kemudian, syarat-syarat kapal yang menyeberang, syarat-syarat muatan kapal yang ikut menyeberang itu juga harus betul-betul dicek lebih ini lagi, lebih teliti lagi agar tidak terjadi, karena informasi yang saya dapat, itu sumber apinya dari salah satu muatan kapal yaitu mobil boks di situ, yang mengakibatkan kebakaran,” katanya.
Menurut dia, pemeriksaan tidak hanya menjadi tanggung jawab Kemenhub, tetapi juga harus melibatkan operator kapal dan pihak terkait lainnya.
“Nah tentu ini menjadi evaluasi semua, Kemenhub, kemudian ASDP dan seluruh operator kapal yang beroperasi, tolong dicek kembali kelayakan kapal sebelum berlayar termasuk penumpangnya,” tuturnya.

Dia juga mengapresiasi proses evakuasi penumpang dan awak KMP Putri Yasmin. Menurutnya, penanganan cepat dari tim SAR, pemerintah daerah, kepolisian, dan aparat lainnya membantu proses penyelamatan korban.
“Dan tentu kami sangat prihatin terhadap kejadian ini, tapi alhamdulillah penanganan yang cepat yang dilakukan oleh teman-teman di Basarnas, kemudian teman-teman di Pemerintah Daerah, di Kabupaten Lombok Barat, polisi dan seluruh aparat yang tergabung untuk melakukan evakuasi, alhamdulillah kami sangat apresiasi,” ujar Lalu.
Tak hanya kapal penyeberangan, Lalu juga menyoroti keselamatan kapal-kapal pariwisata. Dia meminta pengawasan terhadap operator serta kelayakan kapal diperketat.
“Ya tentu pengawasan harus lebih ditingkatkan lagi. Operator-operator dicek, kemudian kapal-kapal yang ada dicek lagi, apakah memang layak untuk berlayar atau tidak. Dan jangan memaksakan. Kalau misalnya sudah tidak layak, ya, ya sudah, ya, perlu perbaikan dan sebagainya, ya, tolong jangan hanya mencari keuntungan saja,” jelas Lalu.
Menurut Lalu, aspek keselamatan harus menjadi prioritas operator kapal. Dia meminta kapal yang sudah tidak memenuhi standar kelayakan tidak dipaksakan untuk beroperasi demi mengejar keuntungan.
Lalu meminta faktor cuaca menjadi perhatian dalam pengawasan keselamatan pelayaran. Menurutnya, kondisi gelombang di setiap wilayah perairan dapat berbeda.
“Kemudian, cuaca kita yang selalu berubah-ubah, juga tentu harus menjadi perhatian. Hari ini kita enggak tahu di Selat Bali gelombang berapa meter, ternyata di Selat Lombok tidak setinggi itu. Nah, itu kan juga harus koordinasi lintas lembaga ini diperlukan, Kementerian Perhubungan, BMKG. Nah, itu juga perlu untuk disinkronisasikan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Putri Yasmin terbakar di perairan Selat Lombok, wilayah Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (12/8).
Kapal penyeberangan tersebut dilaporkan terbakar sekitar pukul 04.15 WITA saat berlayar dari Pelabuhan Padang Bai, Bali, menuju Pelabuhan Lembar, Lombok.
KMP Putri Yasmin membawa 173 orang yang terdiri dari penumpang dan awak kapal. Seluruhnya telah dievakuasi melalui Pelabuhan Padangbai, Karangasem, Bali, dan Pelabuhan Lembar, Lombok.
“Total korban yang sudah terdata sebanyak 173 orang. Satu orang dinyatakan meninggal dunia, atas nama Indah Dwi Septiani (19) dengan alamat Asrama Brimob Gatep Ampenan. Dari total 173 orang, dua di antaranya merupakan WNA asal Australia,” kata Humas Kantor SAR Mataram, I Gusti Lanang Wiswananda.
Comments
Post a Comment