Ortu Korban Dugaan Bullying di Alexandria Islamic School Lapor Disdik Bekasi

Orang tua Keanu Alif Arzachel Zaen atau KAAZ (12), Heni Ira, mendatangi Dinas Pendidikan Kota Bekasi untuk melaporkan dugaan bullying yang dialami anaknya di SMP Alexandria Islamic School, Jumat (2/10). Ia datang dengan didampingi Komisioner KPAD Kota Bekasi, Novrian.
"Saya membuat laporan tentang pengaduan anak saya yang terjadi di lingkungan sekolah. Termasuk masalah pemukulan atau kekerasan kepada anak saya, dan juga manajemen pihak sekolah yang menurut saya tidak bisa mengambil tindakan tegas," ujar Heni, Jumat (2/10).
Heni mengatakan kedatangannya ke Disdik juga untuk meminta kejelasan mengenai mekanisme pengawasan dan penanganan kekerasan di lingkungan sekolah, khususnya sekolah dengan sistem asrama.
Ia mempertanyakan kondisi pengawasan di lingkungan asrama karena sebagai orang tua, dirinya tidak mengetahui secara langsung kondisi kamar tempat anak-anak tinggal.
"Saya sebagai orang tua cuma mengantar sampai depan. Saya tidak tahu kamarnya seperti apa. Apalagi dengan kejadian seperti ini, badan anak saya lebam dan biru. Saya jadi mempertanyakan sebenarnya sekolah ini seperti apa dan bagaimana pengawasannya," katanya.
Dalam kesempatan itu, Heni juga membantah keterangan pihak sekolah yang menyebut insiden yang dialami anaknya ialah perkelahian spontan. Menurut Heni, anaknya diduga telah mengalami kekerasan sebelum peristiwa yang terjadi pada 17 September 2026.
"Kalau bullying itu dilakukan berkali-kali. Menurut saya, yang terjadi bukan perkelahian. Anak saya sudah beberapa kali mendapatkan perlakuan seperti itu," ujarnya.
Heni mengaku memperoleh informasi dari teman-teman anaknya di asrama mengenai dugaan tindakan kekerasan sebelumnya. Ia menyebut anaknya pernah mengalami dugaan pemukulan, cubitan hingga tendangan pada bagian perut.
"Saya sudah sampaikan kepada pihak asrama bahwa anak saya sering sekali badannya biru, memar seperti ini. Tapi dari pihak sekolah hanya menjawab akan ditindaklanjuti," katanya.
Namun, menurut Heni, setelah laporan tersebut disampaikan, kondisi serupa masih kembali terjadi.
"Setiap minggunya saya dapat seperti itu terus, memar, biru, memar, biru. Tidak ada tindakan yang benar-benar terlihat dari sekolah," ujarnya.
Heni juga menyebut dugaan perlakuan tersebut telah dialami anaknya sejak beberapa waktu setelah mulai bersekolah di tempat tersebut. Ia mengaku mengetahui nama siswa yang diduga terlibat.
Dalam pengaduannya ke Disdik Kota Bekasi, Heni meminta adanya langkah tegas terhadap dugaan kekerasan yang dialami anaknya. Ia juga meminta sekolah melakukan evaluasi terhadap sistem pengawasan siswa, khususnya di lingkungan asrama.
"Pertama, saya meminta pihak sekolah memberikan tindakan tegas terhadap anak tersebut. Kedua, untuk anak yang diduga melakukan kekerasan, ada proses sesuai aturan yang berlaku," katanya.
Heni merujuk pada Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan. Menurut dia, sekolah harus memiliki langkah penanganan ketika terdapat dugaan kekerasan terhadap siswa.
Akui Pernah Mediasi
Heni mengakui pihak sekolah pernah melakukan mediasi pada 21 September 2026. Namun, menurut Heni, pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.
"Sebelumnya sudah pernah mediasi. Tapi tidak ada titik terang, tidak ada kesepakatan. Karena itu saya memilih melanjutkan proses ini," kata Heni
Korban Belum Akan Kembali ke Sekolah
Saat ini Keanu masih berada di rumah bersama keluarganya. Heni mengatakan dirinya belum memastikan masa depan pendidikan anaknya, tetapi untuk sementara tidak mengizinkan Keanu kembali ke sekolah tersebut.
"Untuk ke depannya Keanu tidak saya izinkan lagi untuk kembali ke sana. Saya takut kejadian seperti ini terulang lagi," ujarnya.
Kekhawatiran itu, kata Heni, semakin besar setelah dirinya menerima sejumlah pesan dari orang tua lain melalui media sosial yang mengaku memiliki pengalaman atau keresahan terkait dugaan bullying di sekolah tersebut.
"Saya banyak dihubungi orang tua melalui TikTok dan Instagram. Mereka menyampaikan pengalaman dan keresahan masing-masing. Itu juga yang membuat saya khawatir," katanya.
Respons Disdik

Menanggapi laporan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Chondro Wibhowo Mahartoyo Sukmo, mengatakan pihaknya tidak ingin mengambil kesimpulan hanya berdasarkan keterangan satu pihak. Laporan tersebut akan didalami dengan meminta informasi dari pihak sekolah dan pihak lain yang berkaitan.
"Sudah menerima laporan tertulis orang tua dari salah satu murid Alexandria School. Ada beberapa informasi yang kami terima. Tapi saya merasa perlu menindaklanjutinya dengan menggali laporan lebih dalam," kata Chondro.
Chondro mengatakan perhatian Disdik tidak hanya tertuju pada dugaan kekerasan yang terjadi, tetapi juga bagaimana sistem dan manajemen sekolah berjalan.
"Manajemen sekolah yang kurang baik itu nanti yang fokus kita perbaiki. Kemudian juga kita perlu menciptakan budaya sekolah yang aman dan nyaman," ujarnya.
Disdik, kata Chondro, juga memiliki fungsi pembinaan dan pengawasan terhadap sekolah swasta pada jenjang pendidikan yang menjadi kewenangannya.
Karena itu, dalam waktu dekat Disdik berencana mendatangi Alexandria Islamic School untuk melihat secara langsung kondisi dan sistem pengelolaan sekolah.

"Kami akan kunjungan mungkin ke Alexandria dalam rangka tadi," katanya.
Disdik Kota Bekasi juga belum mau menyimpulkan kasus tersebut sebagai tindakan bullying. Chondro mengatakan perlu ada pendalaman untuk membedakan antara konflik sesaat antarsiswa dengan tindakan bullying yang memiliki karakteristik tertentu.
"Apakah ini konflik remaja sesaat atau seperti apa, tadi juga ada psikolog yang akan mendalami mental atau kejiwaan muridnya," ujarnya.
"Kalau bullying itu kan ada beberapa kriteria. Ketika ini berulang atau berpotensi berulang atau ada ketimpangan kuasa, itu bisa dikumpulkan. Kalau konflik belum bisa serta-merta kemudian dikatakan sebagai bullying," kata Chondro.
Comments
Post a Comment